Monday, December 21, 2009

Suraqah Bin Malik : Tokoh Maal Hijrah


Ketika dia mengejar Rasulullah, tiba-tiba kaki kudanya tidak boleh bergerak. Dia sendiri terlempar dari punggung kudanya.

Ketika mendengar berita bahawa petmbesar Quraisy menyediakan hadiah seratus ekor unta betina muda yang hampir beranak bagi yang dapat menangkap Muhammad bin Abdullah hidup atau mati, Suraqah bin Malik, dari Desa Madlaji, teruja. Betapa tidak, untuk memiliki unta sebanyak itu dalam waktu singkat, uh, mimpilah adanya. Kini, orang dapat mendapatkannya hanya dengan menyerahkan Muhammad. “Apa susahnya?” pikir Suraqah.

Apalagi, baru saja ada orang yang mengaku melihat Nabi Muhammad bersama Abu Bakar dan seorang pemandu di tengah jalan. “Tidak mungkin,” bantah Suraqah. “Mungkin itu orang yang sedang mencari ternaknya.”

Saat itu, pencarian terhadap Nabi Muhammad memang sedang digalakkan oleh Abu Jahal dan para pembesar Quraisy. Bahkan serombongan pemburu telah sampai di pintu Gua Tsur, tempat persembunyian Nabi bersama Abu Bakar. Tapi karena di pintu gua terbentang sarang laba-laba, mereka menjadi ragu. “Tidak mungkin tempat ini telah dilalui manusia,” fikir mereka.

Di dalam gua, Abu Bakar telah ciut nyalinya. Para pencari itu berada di gua tepat di atas kepala Abu Bakar, dan ia merasakan pijakan kaki mereka mondar-mandir mencari sasarannya. Air mata Abu Bakar meleleh di pipi menahan ketakutan.

“Mengapa engaku menangis, Abu Bakar?” tanya Nabi berbisik di telinga sahabatnya itu.

“Demi Allah, aku menangis bukan mengkhawatirkan tentang keselamatanku, melainkan cemas bila terjadi sesuatu menimpa diri Tuan, ya Rasulullah,” jawab Abu Bakar.

“Jangan takut,” jawab Rasulullah membesarkan hati sahabatnya itu.. “Sesungguhnya Allah beserta kita.”

“Seandainya mereka melihat ke tempatnya berpijak, pasti akan melihat kita,” kata Abu Bakar, masih dengan nada khawatir.

“Apakah engkau masih ragu, Abu Bakar?” tanya Rasulullah. “Kalau kita ini berdua, Allah-lah yang ketiga.”

Ya, saat itu Nabi Muhammad sudah dalam kondisi terpepet. Semua akses jalan keluar Makkah telah diblokir kaum Quraisy, sehingga Gua Tsur itulah satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Abu Jahal, yang berada dalam rombongan itu, menyatakan keyakinannya bahwa Nabi Muhammad tidak berada jauh dari tempat itu. “Muhammad pasti mendengar ucapan kita dan melihat apa yang kita lakukan. Tapi sihir Muhammad menutup penglihatan kita,” katanya.

Akhirnya para pembesar Quraisy putus asa dan menghentikan pencariannya terhadap Rasulullah dan Abu Bakar. Lalu mereka menyebar sayembara untuk menangkap Nabi Muhammad.

Walaupun membantah informasi yang dikatakan salah seorang yang melihat Nabi Muhammad, Suraqah menggunakan ucapan orang tadi sebagai sumber info. Demi mendapat seratus ekor unta, dipacunya kudanya sekuat tenaga menuju ke sasaran yaitu lembah yang ditunjuk orang itu.

Dan terbukti, di sana ia melihat buruannya, Nabi Muhammad dan Abu Bakar. Namun ketika berusaha mendekati Nabi, tiba-tiba kudanya tersandung sehingga Suraqah terpelanting dari pelana. “Kuda sialan!” bentak Suraqah.

Tanpa mempedulikan rasa sakit, ia kembali ke punggung kuda dan memacunya. Namun untuk kedua kalinya kuda itu tersandung dan lagi-lagi Suraqah terpelanting.

Hatinya kesal dan merasa dirinya sial. Karena itu ia mengurungkan niatnya dan berencana akan pulang ke rumah. Tapi karena tamak, ingin mendapatkan seratus ekor unta betina itu, diteruskannya perburuan tersebut.

Belum begitu jauh Suraqah memacu kudanya, dilihatnya Nabi Muhammad dan Abu Bakar tengah melaju meninggalkan Makkah. Secara refleks tangannya mencoba meraih busur panah di punggungnya. Namun, apa daya….tangan itu tiba-tiba kaku, tak bisa digerakkan. Dan kaki kudanya terbenam ke dalam pasir serta menyebarkan debu yang menyebabkan matanya kelilipan. Ketika berusaha menyentakkan kakinya, sang kuda tidak bisa bergerak satu inci pun, dan kakinya itu malah semakin terbenam ke bumi.

Dia lalu berpaling kepada Rasulullah dan berteriak dengan memelas, “Hai kalian berdua, berdoalah kepada Tuhanmu, supaya kaki kudaku lepas. Aku berjanji tak akan menggangu kalian berdua.”

Rasulullah menengadahkan kedua tangannya dan berdoa, maka bebaslah kaki kuda Suraqah. Tapi, karena tamaknya, setelah bebas, dia lupa akan janjinya dan berusaha melabrak Rasulullah dengan kudanya. Namun, niat itu tidak terlaksana, karena kaki kuda itu kembali terbenam ke bumi, bahkan lebih dalam lagi.

Suraqah memohon belas kasihan kepada Rasulullah.”Ambillah perbekalanku, harta, dan senjataku. Aku berjanji atas nama Allah kepada kalian berdua, akan menyuruh kembali setiap orang yang berusaha melacak kalian,” katanya.

“Aku tidak butuh hartamu,” jawab Rasulullah. “Cukup kalau kamu suruh kembali orang-orang yang berusah membuntuti aku.” Kemudian Rasulullah berdoa, dan bebaslah kaki kuda Suraqah.

“Demi Allah, aku tidak akan mengganggumu lagi,” kata Suraqah setelah kaki kudanya lepas. Setalah itu ia bahkan menyatakan keyakinannya, “Agama yang Tuan bawa akan menang dan pemerintahan Tuan jaya. Aku mohon apabila kelak aku datang kepada Tuan, Tuan akan bermurah hati kepadaku. Tuliskanlah hal itu untukku.”

Rasulullah meminta Abu Bakar menulis pada sekerat tulang dan menyerahkannya kepada Suraqah sambil berkata, “Bagaimana jika pada suatu saat kamu memakai gelang kebesaran raja Persia?”

“Gelang kebesaran raja Persia?” tanya Suraqah terkejut.

“Ya, gelang kebesaran Kisra bin Hurmuz!” jawab Rasulullah meyakinkan.

Setelah itu Suraqah kembali ke Makkah dengan hati lega. Kepada orang-orang Quraisy yang ditemuinya sepanjang jalan, ia meyakinkan bahwa usaha pencarian mereka terhadap Nabi Muhammad akan sia-sia. “Telah kuperiksa seluruh tempat dan jalan yang mungkin dilaluinya, namun aku tidak menemukan Muhammad,” katanya. “Bukankah kalian tidak sepandai aku dalam hal melacak jejak?”

Beberapa saat kemudian, ketika ia merasa Rasulullah telah selamat sampai di Madinah dan aman dari jangkauan orang-orang Quraisy, barulah ia mengatakan yang sebenarnya.

Begitu Abu Jahal mendengar pengakuan itu, dia mencela Suraqah dan menghinanya sebagai pengecut yang tak tahu malu, dan bodoh, karena menyia-nyiakan kesempatan emas.

Namun Suraqah tak mau dihina seperti itu. “Demi Alah, kalau engkau melihat dan mengalami peristiwa yang aku alami ketika kaki kudaku amblas ke dalam pasir, engkau pasti yakin dan tak ‘kan ragu sedikit pun bahwa Muhammad itu jelas Rasulullah! Siapa yang sanggup menantangnya, silahkan!”

Waktu terus berlalu. Nabi Muhammad yang tadinya hijrah meninggalkan Makkah dengan sembunyi-sembunyi di malam gelap, kembali sebagai panglima, memimpin puluhan ribu prajurit yang berbaris rapi menyandang busur. Para pembesar Quraisy yang selama itu angkuh, sombong, dan sok kuasa, semua datang kepadanya dengan kepala tunduk, ketakutan, dan cemas. Mereka memelas minta dikasihani. “Hukuman apakah yang akan Tuan berikan kepada kami?”

Dengan nada lembut, Nabi menjawab, “Pulanglah, Tuan-tuan bebas!”

Suraqah juga ingin menggunakan kesempatan itu untuk menghadap Rasulullah, hendak menyatakan imannya dan tak lupa membawa tulang yang bertulis janji Rasul kepadanya sepuluh tahun lalu. “Saya menghadap beliau ketika berada di perkemahan pasukan berkuda orang-orang Anshar. Mereka menghalangiku dan memukulku dengan tombak,” kenangnya.

“Berhenti, berhenti… Mau ke mana kamu?” mereka mencegah.

“Tetapi saya tidak peduli, dan terus menyeruak, hingga berdiri di depan beliau, yang sedang duduk di atas pelana unta. Lalu kuangkat tulang bertulis janji beliau. ‘Ya Rasulullah, saya suraqah bin Malik’.”

“Mendekatlah kepadaku,” jawab Rasul. “Hari ini adalah hari menepati janji dan hari perdamaian!”

“Setelah berhadapan dengan beliau, saya menyatakan iman dan Islam kepadanya.”

Peristiwa itu hanya berjarak sembilan bulan dari wafatnya Baginda Rasul. Betapa sedihnya Suraqah. Wafatnya Rasulullah itu mengingatkan dirinya pada masa lalunya yang kelam. Tanpa sadar ia mengatakan ucapan Rasulullah kepadanya – “Bagaimana jika kamu memakai gelang kebesaran Kisra?” – yang ia yakini pasti akan terjadi.

Suraqah diberi umur panjang dan menyaksikan kemenangan pasukan Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khathtab.

Pada suatu hari menjelang akhir pemerintahan Khalifah Umar, Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash tiba di Madinah. Mereka melaporkan kemenangan yang dicapai tentara muslimin dan menyerahkan kepada khalifah harta rampasan yang diperoleh dalam perang di jalan Allah, sabilillah.

Ternyata harta rampasan itu berupa barang-barang emas, seperti mahkota yang bertatahkan intan dan mutiara, pakaian kebesaran kerajaan yang bersulam benang emas bertabur intan permata, gelang, kalung, anting, dan segala macam perhiasan raja dan pangeran yang sangat mahal, sehingga Khalifah Umar tampak kebingungan. “Alangkah jujurnya orang-orang yang menyerahkan semua ini,” ujar Khalifah sambil membolak-balik harta itu dengan tongkatnya.

Ali bin Abi Thalib, yang mendengar ucapan itu, menimpali, “Itu semua karena Anda bersih, sehingga jamaah Anda juga bersih. Tapi bila Anda curang, mereka akan turut curang.”

Dan entah kenapa, Khalifah kemudian memanggil Suraqah bin Malik. Kepadanya, Khalifah memakaikan busana kebesaran Kisra itu lengkap dari mulai celana, sepatu, pedang, gelang, pakaian kebesaran, dan mahkota, dan Khalifah sendiri kemudian memujinya. Alangkah hebatnya anak Desa Madlaji ini.”

Dengan demikian, terbuktilah ucapan Baginda Nabi kepada Suraqah sepuluh tahun sebelumnya – “Bagaimana jika suatu waktu kamu memakai gelang kebesaran Kisra?”

Khalifah kemudian menengadahkan tangan sambil berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari pemberian-Mu ini, agar semua ini tidak mencelakakan aku dan umat ini.” Setelah itu semua harta rampasan itu dibagikan kepada kaum muslimin

Anak Legeh Di Perantauan | Template by - Abdul Munir - 2008