Sunday, June 28, 2009

ABDULLAH BIN AL-MUBARAK

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ayahnya seorang Turki dan ibunya seorang Persia. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur. Abdullah bin Mubarak telah belajar di bawah bimbingan beberapa orang guru, baik yang berada di Merv mahupun di tempat-tempat lainnya, dan ia sangat ahli di dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam gramatika dan kesusasteraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M. Banyak karya-karyanya mengenai Hadits, salah satu di antaranya dengan tema "Zuhud masih dapat kita jumpai hingga waktu sekarang ini."

PERTAUBATAN ABDULLAH BlN MUBARAK


Abdullah bin Mubarak pernah tergila-gila kepada seorang gadis dan membuat dia terus-menerus dalam kesedihan. Suatu malam di musim sejuk dia berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari hanya kerana ingin melihat kekasihnya itu walau untuk sekilas saja. Salju turun sepanjang malam itu. Ketika adzan Subuh terdengar, ia masih menyangka bahawa itu adalah adzan untuk shalat 'Isya.


Sewaktu fajar menyingsing, barulah ia sedar betapa ia sebenarnya terlena dalam merindukan kekasihnya itu. "Wahai putera Mubarak yang tak tahu malu!". Katanya kepada dirinya sendiri. "Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari kerana kehendak peribadimu. Tetapi apabila seorang imam shalat membaca surah yang panjang engkau menjadi sangat gelisah."


Sejak saat itu hatinya sangat sedih. Kemudian ia bertaubat dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah. Begitulah sempurna baktinya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, dia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar sementara seekor ular dengan bunga narkisus di mulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.


Setelah bertaubat, Abdullah bin Mubarak meninggalkan Kota Merv untuk beberapa lama menetap di Baghdad. Di kota inilah dia bergaul dengan tokoh-tokoh sufi. Dari Baghdad dia pergi ke Mekkah kemudian ke Merv. Penduduk Merv menyambut kedatangannya dengan gembira. Mereka kemudian mengurus kelas-kelas dan kelompok-kelompok pengajian. Pada masa itu sebahagian penduduk beraliran Sunnah sedang sebagiannya lagi beraliran fiqh. Itulah sebabnya mengapa Abdullah disebut sebagai tokoh yang dapat diterima oleh kedua aliran itu. Ia mempunyai hubungan baik dengan kedua aliran tersebut dan masing-masing aliran itu mengakuinya sebagai anggota sendiri. Di kota Merv, Abdullah mendirikan dua buah sekolah tinggi, yang satu untuk golongan Sunnah dan satu lagi untuk golongan Fiqh. Kemudian ia berangkat ke Hijaz dan untuk kedua kalinya menetap di Mekkah.


Di kota ini dia mengisi tahun-tahun kehidupannya secara berselang-seli. Tahun pertama ia menunaikan ibadah haji dan pada tahun kedua ia pergi berperang, tahun ketiga ia berdagang. Keuntungan dari perdagangannya itu dibahagikannya kepada para pengikutnya. la biasa membahagi-bahagikan kurma kepada orang-orang miskin kemudian menghitung biji buah kurma yang mereka makan, dan memberikan hadiah satu dirham untuk setiap biji kepada siapa di antara mereka yang paling banyak memakannya.


Abdullah sangat teliti dalam kesalehannya. Suatu ketika ia tiba di sebuah warung kemudian pergi shalat. Sementara itu kudanya yang berharga mahal menerobos ke dalam sebuah ladang gandum. Kuda itu lalu ditinggalkannya dan meneruskan perjalanan-nya dengan berjalan kaki. Mengenai hal ini Abdullah berkata: "Kudaku itu telah mengganyang gandum-gandum yang ada pemiliknya".


Pada peristiwa lain, Abdullah melakukan perjalanan dari Merv ke Damaskus untuk mengembalikan sebuah pena yang dipinjamnya dan lupa mengembalikannya.


Suatu hari Abdullah melalui suatu tempat. Orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada di situ bahawa Abdullah sedang melewati tempat itu. "Mintalah kepadanya segala sesuatu yang engkau perlukan!" "Abdullah berhentilah!", orang buta itu berseru. Abdullah lalu berhenti. " Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini!", ia memohon kepada Abdullah. Abdullah menundukkan kepala lalu berdoa. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali.

Anak Legeh Di Perantauan | Template by - Abdul Munir - 2008