Wednesday, May 26, 2010

Taat Suami Menuju Syurga

Oleh : Ust Yusof Embong

Pernikahan
adalah salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan dengan kadar yang sama dan berimbang, ia adalah wujud kecintaan, kasih sayang, mementingkan pasangan, saling memberi dan menerima, hal itu terbaca jelas dalam firman Allah Subhanahu waTa'ala,

وَمِنْ ءايَـتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَجاً لِّتَسْكُنُواْ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِى ذَلِكَ لأَيَـتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴾
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. ar-Rum: 21).

Demi menjaga kelangsungan kasih sayang dan hubungan baik antara suami isteri maka Allah meletakkan hak bagi masing-masing atas pasangannya.

Firman Allah Subhanahu waTa'ala, وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِى عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوف
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ِ
, "…..Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya." (QS. al-Baqarah: 228).

Isteri mempunyai hak-hak atas suami yang tidak sedikit yang wajib diberikan oleh suami kepadanya, jika suami tidak menunaikannya, maka hal itu dianggap sebagai dosa dan kemaksiatan yang tidak ringan di sisi Allah. Sebaliknya suami memiliki hak-hak atas isteri sebanding dengan hak isteri atas suami, di antara hak-hak suami adalah hendaknya seorang wanita muslimah menjadi isteri yang patuh dan taat kepada suaminya dengan menunaikan hak-haknya sebaik-baiknya.

Besarnya hak suami atas isteri.
Hak suami atas isteri adalah besar, kedudukannya di hadapannya adalah agung, hal itu tergambar dengan jelas melalui:

A. Perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada isteri agar bersujud kepada suami seandainya makhluk boleh bersujud kepada makhluk. Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,"Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain niscaya aku memerintahkan isteri agar bersujud kepada suaminya." (HR. at-Tirmidzi)

B. Murka yang di langit kepada isteri yang menolak permintaan suami untuk bermesra, murka ini hapus jika suami redha kepada isteri. Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda, "Demi dzat yang jiwaku berada ditanganNya, tidak ada seorang suami mengajak isteri ke ranjangnya lalu isterinya menolaknya kecuali yang di langit memurkainya sehingga suami redha kepadanya ."

C. Penunaian ibadah-ibadah sunnah oleh isteri bergantung kepada izin suami, jika ibadah-ibadah tersebut menghalangi hak suami. Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda, "Tidak halal bagi wanita berpuasa sementara suaminya ada/hadir kecuali dengan izinnya. Dan hendaknya dia tidak mengizinkan di rumahnya kecuali dengan izinnya."

Khusus dalam hal ini terdapat teladan dari Aisyah radiyallahu 'anha isteri Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam, Aisyah berkata, "Aku pernah berhutang puasa Ramadhan, aku baru bisa melunasinya di bulan Sya'ban hal itu karena kedudukan Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Jamaah).

D. Menghadirkan seseorang di rumah suami bergantung kepada restu suami. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radiyallahu 'anhu di atas, "Dan hendaknya dia tidak mengizinkan di rumahnya kecuali dengan izinnya."

E. Izin khulu' -menuntut berpisah dari isteri dengan membayar iwadh (ganti rugi)- dalam kondisi isteri takut tidak mampu menunaikan hak-hak suami seperti yang dilakukan oleh isteri Tsabit bin Qais. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbasz berkata, isteri Tsabit bin Qais datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata, "Ya Rasulullah, aku tidak membenci agama dan akhlak Tsabit, hanya saja aku takut kufur dalam Islam." Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah kamu mahu mengembalikan kebunnya kepadanya?" Dia menjawab, "Ya." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta Tsabit berpisah darinya. Apa yang dilakukan isteri Tsabit ini merupakan tindak lanjut dari firman Allah Subhanahu waTa'ala,

وَلاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُواْ مِمَّآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلاَّ أَن يَخَافَآ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ
, "Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahawa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya." (QS. al-Baqarah: 229).

F. Ihdad (berkabung) hanya boleh tiga hari tetapi untuk suami -maksudnya jika suami yang meninggal- maka masa ihdad lebih panjang iaitu empat bulan sepuluh hari.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir berihdad atas mayat lebih dari tiga malam kecuali atas suami iaitu empat bulan sepuluh hari." (Muttafaq alaihi).

G. Tatanan iddah (masa tunggu) bagi isteri yang berpisah dari suami, di mana dalam masa ini isteri belum boleh menerima lamaran dari orang lain karena hak suami dan suami tetap dinamakan suami yang memegang hak rujuk jika berpisahnya masih memungkinkan untuk rujuk.
firman Allah Subhanahu waTa'ala,

﴿وَالْمُطَلَّقَـتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَـثَةَ قُرُوءٍ وَلاَ يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِى أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاٌّخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُواْ إِصْلَـحاً
"Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah." (QS. al-Baqarah: 228).

Anak Legeh Di Perantauan | Template by - Abdul Munir - 2008